Minggu, 23 September 2018

Artikel tentang "peran Orangtua Dalam Menanggulangi Tawuran"


“Peran Orangtua Dalam Menanggulangi Tawuran”
Oleh: Rofif Syuja’ Mu’tasyim

Tawuran pelajar antar sekolah sepertinya sudah menjadi noda hitam di dunia pendidikan Indonesia. Tawuran seakan dilestarikan sebagai warisan budaya, diwariskan dari satu angkatan pelajar senior ke juniornya selama bertahun-tahun. Seperti pada kasus tawuran antara SMK Biphuri dan SMK Sasmita Jaya yang terjadi di depan Taman Tekno BSD, Jalan Puspitek Raya, Setu, Tangerang Selatan, Selasa (31-07-2018) sore. Akibat tawuran tersebut, Fauzan adalah salah satu korban akibat tawuran antar pelajar tesebut. Fauzan mengalami luka serius akibat tertancap senjata tajam di pipi kirinya. Kemudian Fauzan dibawa ke RS Hermina Serpong, Tangerang Selatan. Setelah 7 jam mendapat perawatan medis, Fauzan dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat.
Sebelumnya petugas RS Hermina Serpong tidak berani mengambil langkah lebih lanjut untuk mencabut sajam dari pipi Fauzan disebabkan peralatan medis yang minim. Fauzan masuk RS Hermina sekitar pukul 16.00 WIB akhirnya dilarikan ke RSCM sekitar pukul 23.00 WIB dengan posisi kepala berada di bagian belakang ambulans. Hal itu terjadi lantaran petugas medis khawatir ambulans yang membawa Fauzan tak cukup ruang untuk Fauzan dan sajam yang berukuran sekitar 50 cm itu.
 “kalau kita ikutin SOP kan harusnya kepalannya di depan saat masukin ke ambulans. Nah ini mah engga muat, karena ada sajamnya nempel, ga mungkin dicabut dulu, makanya posisinya kita balik kepalanya, “ kata salah satu petugas medis ambulans.
Rabu, 08 Agustus 2018, Fauzan menghembuskan nafas terakhir di RSCM. Setelah 3 hari sebelumnya sajam yang tertancap di pipinya dicabut, Fauzan telah menjalani 11 hari perawatan di RSCM. Tak hanya itu, Kota Tangerang Selatan pun tercoreng setelah beberapa hari sebelumnya mendapat predikat kota layak anak.
Menanggapi kejadian diatas, sangat disayangkan sekali jika waktu- waktu yang dilalui hanya untuk hal- hal yang tak bermanfaat, salah satunya tawuran. Padahal masa- masa SMK adalah masa dimana menuju jenjang sekolah yang lebih tinggi lagi. Tawuran pun tak ada manfaatnya sama sekali bagi masing- masing orang, apalagi untuk sekolah. Pentingnya pendidikan dan berteman dengan orang- orang baik sangat diperlukan. Karena, ada beberapa anak yang hanya ikut- ikutan tawuran karena senior pun turut andil didalamnya. Dan adapula yang memang ingin menunjukkan keperkasaan sekolah tersebut, padahal dari pihak sekolah sendiri pun tak mengajarkan perihal demikian kepada anak- anak muridnya. Pemikiran- pemikiran yang dangkal yang telah mereka pikirkan, tanpa memikir kedepan apa yang bisa saja terjadi.
Kejadian tawuran antar pelajar di era milenial kali ini maih sering sekali terjadi. Fauzan dari SMK Sasmita Jaya yang sudah menjadi korban yang cukup parah pun ternyata bukanlah akhir dari tawuran antar pelajar. Tawuran pelajar kembali terjadi pada Rabu, 29 Agustus 2018 di Jalan KH. Hasyim Ashari, Cipondoh, Kota Tangerang. Namun tawuran yang terjadi di Cipondoh itu belum diketahui asal sekolah mereka. Polsek Cipondoh pun langsung melerai aksi tersebut. Aksi kejar- kejaran pun mewarnai antara pelajar dan polisi. Kemudian tertangkaplah dua orang yang diduga sebagai provokatornya. Dari hasil penangkapan tersebut. “mereka membawa senjata tajam jenis celurit dan gergaji,” ujar Kapolsek Cipondoh, Kompol Sutrisno.

Tak hanya itu. Dikabarkan melalui SindoNews.com. puluhan pelajar kembali terlibat tawuran di Jalan Raya Gatot Subroto, KM 5, Jatiuwung, Kota Tangerang. Kasat Reskrim Polresto Tangerang AKBP Deddy Supriyadi mengatakan, tawuran pecah sekitar pukul 19.00 WIB. Tawuran ini melibatkan tiga sekolah, yakni SMKN 4, SMKN 2, dan SMK 68 veteran. “mereka ingin menyerang siswa SMK Yupentek, Curug, Kabupaten Tangerang. Sebanyak 91 pelajar berhasil kami amankan dalam tawuran itu,” ujar Deddy. Menurut Deddy, tawuran berlangsung sengit. Para siswa sempat saling lempar batu dan mengadu senjata tajam jenis parang, pedang, celurit, bambu, dan benda lainnya. Dengan aksi tawuran tersebut juga membuat macet jalan raya.  
Menurut azzamaviero.com, ada 10 faktor terjadinya tawuran antar pelajar, diantaranya: faktor keluarga, faktor pergaulan, faktor mental dan gengsi, faktor lingkungan, faktor sekolah, faktor narkoba dan barang haram lainnya, tumbuhnya jiwa premanisme, perhatian guru, dan minimnya pengetahuan agama. Sudah jelas penjelasan tersebut mengenai faktor penyebab tawuran antar pelajar. Lantas, adakah cara mengatai tawuran antar pelajar yang sering terjadi?.  Menurut guruppkn.com, untuk mengawai tawuran setidaknya ada dua macam pendekatan yaitu preventif (mencegah) dan kuratif (menanggulangi). Pendekatan- pendekatan tersebut dilakukan berdassarkan faktor- faktor penyebab munculnya tawuran. Beberapa pendekatan preventif untuk mencegah terjadinya tawuran, yakni: pendekatan keluarga,pembatasan pergaulan, pengendalian diri. Sedangkan, pendekatan kuratif  yang dapat dilakukan untuk mengatasi tawuran yang terlanjur terjadi yaitu: penegakkan hukum oleh aparat kepolisian, peran aktif guru dan lingkungan sekolah, peran aktif dari pihak keluarga.
Terlepas dari peran aktif sekolah, peran orang tua juga perlu diprioritaskan dalam upaya mengatasi tawuran pelajar.
Pendidikan dalam keluarga sangat penting sebagai landasan dasar yang membentuk karakter anak sejak awal. Peran orang tua tidak hanya sebatas menanamkan norma-norma kehidupan sejak dini. Mereka harus terus berperan aktif, terutama pada saat anak-anak menginjak usia remaja, di mana anak-anak ini mulai mencari jati diri.
Bagaimana orang tua dapat berperan aktif? Orang tua mesti senantiasa menjaga komunikasi, keharmonisan keluarga serta membentengi mereka dengan pendidikan agama yang benar. Melalui tiga cara ini, orang tua dapat memberikan contoh teladan yang baik bagi anaknya. Dengan adanya teladan yang baik di rumah, mereka akan lebih tidak mudah terpengaruh untuk terlibat dengan aktivitas yang bersifat anarkis.
-          Menjalin komunikasi yang baik. Kenyataan di masa sekarang bahwa orang tua terlalu sibuk bekerja hingga anak-anak ini kehilangan figur orang tua mereka. Sesibuk apapun, orang tua mesti berusaha meluangkan waktu bersosialisasi dengan anak remaja mereka. Luangkan waktu di akhir pekan untuk berkumpul dan mendengar keluh kesah mereka. Posisikan diri anda sebagai teman bagi anak anda dalam memberikan feedback. Dia akan merasa lega bisa mengeluarkan uneg-unegnya secara positif tanpa harus menyimpang ke perilaku destruktif.
-          Menjaga keharmonisan keluarga. Emosi anak-anak usia remaja sangatlah labil. Untuk itu, anda harus pandai-pandai menjaga emosi anak. Usahakan untuk tidak mendikte atau mengekang anak selama yang dilakukannya masih positif. Usahakan juga untuk tidak melakukan tindak kekerasan di dalam rumah dan tidak melakukan pertengkaran fisik di hadapan sang anak. Mereka akan mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya. Jika orang tua sendiri tidak bisa menghargai anggota keluarga sendiri, bagaimana anak-anak bisa belajar menghargai orang lain?
-          Memberi pendekatan agama yang benar. Pendidikan agama dalam keluarga juga berperan penting dalam memberi fondasi yang kuat dalam membentuk kepribadian seseorang. Fondasi agama yang benar bukan terletak pada ritual keagamaan yang dijalankan, tapi lebih mengarah kepada penerapan nilai-nilai moral dan solidaritas kepada sesama.

















Minggu, 15 Juli 2018

Analisis novel "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck"


Analisis Novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka dengan pendekatan psikologis


ABSTRAK
Pada dasarnya sebuah karya sastra adalah replika kehidupan nyata. Walaupun berbentuk fisik, misalnya cerpen novel dan drama, persoalan yang disodorkan oleh pengarang tak terlepas dari pengalaman kehidupan nyata sehari-hari. Hanya saja dalam penyampaiannya, pengarang sering menegaskan dengan gaya yang berbeda-beda  dan syarat pesan moral bagi kehidupan manusia. Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala psikologis dan sosiologis di sekitarnya. karya sastra adalah imajinasi yang tertuang dalam karya sastra, meski dibalut dalam semangat kretivitas, tidak luput dari selera dan kecenderungan subjektif, aspirasi dan opini personal ketika merespons objek diluar dirinya, serta muatan-muatan khas individualistik yang melekat pada diri penulisnya sehingga ekspresi karya bekerja dan khayal, selain kekuatan merayap realitas kehidupan. Itulah sebabnya di dalam sebuah cerita, cerpen atau novel, seorang pengarang sering mengangkat fenomena yang terjadi dimasyarakat. Dengan harapan para pembaca dapat mengambil hikmah dari fenomena tersebut.















PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
            Pada dasarnya isi sebuah karya sastra memuat perilaku manusia melalui karakter tokoh-tokoh cerita. Sangat beragam perilaku manusia yang dimuat dalam cerita. Kadang-kadang hal ini terjadi perulangan jika diamati secara cermat. Pola inilah yang ditangkap sebagai fenomena dan seterusnya diklasifikasikan ke dalam kategori tertentu seperti gejala kejiwaan, sosial dan masyarakat. Misalnya perilaku yang berhubungan dengan gejala kejiawaan yaitu fenomena frustasi, kekecewaan, dan kecintaan yang telalu berlebihan terhadap seseorang. Pemahaman fenomena frustasi ini dapat dilakukan dengan pendekatan psikologis. Bahwa pendekatan psikologis menekankan analisis terhadap karya sastra dari segi intrinsic, khususnya pada penokohan atau perwatakannya. Penekanan ini dipentingkan, sebab tokoh ceritalah yang banyak mengalami gejala kejiwaan.  

            Pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck juga Kehadiran unsur religius dan keagamaan dalam sastra. Bahkan, sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius. Istilah “religious”membawa konotasi pada agama. Religius dan agama erat berkaitan, berdampingan, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karangan hamka, tampaknya merupakan karya fiksi Indonesia modern yang mulai memasukkan unsur keagamaan (islam) dalam sastra. Namun, agama di sana adalah agama sebagai keyakinan penuh para tokoh cerita, bukan keyakinan (syar’iat) agama yang di permasalahkan. Dengan kata lain, unsur agama itu sendiri tidak begitu berpengaruh pada konflik cerita. Konflik ceritanya sendiri masih berkisah pada adanya ketidak bebasan memilih jodoh, ada pihak yang memaksakan kehendak pada pihak lain yang menyebakan pihak itu menderita. Para penganut agama islam pun ternyata masih terkecoh atau lebih melihat sesuatu yang bersifat lahiriah. 









PEMBAHASAN

A.    Sinopsis
            Novel ini menceritakan tentang kisah cinta yang tidak sampai karena terhalang oleh adat yang sangat kuat. Zainuddin adalah seorang pemuda dari perkawinan campuran Minangkabau dan Makasar, ayahnya Zainuddin yang berdarah Minangkabau mengalami masa pembuangan ke Makasar dan menikah dengan ibunya Zainuddin yang berdarah asli Makasar, Zainuddin mempunyai mempunyai seorang kekasih asal Batipun bernama Hayati, namun hubunga mereka harus berakhir karena adat karena berdasarkan sebuah rapat, ibu Zainuddin tidak dianggap manusia penuh.
            Akhirnya Hayati menikah dengan seorang pemuda bangsawan asli Minangkabau bernama Aziz. Mendengar pernikahan itu Zainuddin jatuh sakit, akan tetapi berkat dorongan semangat dari Muluk sahabatnya yang paling setia, kondisi Zainuddin berangsur-angsur mambaik dan pada akhirnya Zainuddin menjadi seorang pengarang yang sangat terkenal dan Zainuddin tinggal di Surabaya. Di Surabaya inilah Zainuddin bertemu dengan hayati yag diantar oleh suaminya sendiri yaitu Aziz, untuk dititipkan padanya, kemudian Aziz mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
            Rasa cinta Zainuddin pada Hayati sebenarnya masi membara, akan tetapi mengingat Hayati itu sudah bersuami, cinta yang masih menyalah itu berusaha untuk dipadamkan, kemudian Hayati dibiayai untuk pulang ke Batipun. Tetapi nasib malang menimpa Hayati, dalam perjalanan pulang ke Batipun itu, Kapal Van Der Wjick yang ditumpangi Hayati tenggelam. Hayati meninggal dunia dirumah sakit Cirebon disaat-saat akhir hayatnya, Hayati masih sempat mendengar dan melihat bahwa sebenarnya Zainuddin masih sangat mencintainya, namun semua itu sudah terlambat. Tidak berselang lama, Zainuddin menyusul Hayati ke alam baka, jenazah Zainuddin dimakamkan persis disamping makam mantan kekasihnya, Hayati.

B.  Aspek keislaman dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wjick
Apabila membaca karya-karya Hamka, termasuk dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wjick, aspek-aspek keislaman dan dakwah keislaman dapat kita rasakan. Dalam novel tersebut, dakwah keislaman itu terasa dari penokohan yang dilakukan pengarang. Sebagai contoh, ada pernyataan dalam novel bahwa tokoh Zainuddin, setelah berpisah dengan Hayati, berniat dan bercita-cita untuk memper dalam ilmu dunia dan akhirat supaya kelak menjadi seorang yang berguna. Angan-angan Zainuddin adalah menjadi orang alim, sehingga apabila kembali kekampungnya dapat membawa ilmu. Zainuddin sendiri adalah turunan dari ayah dan ibu ahli ibadah.
Apa yang dilakukan Hamka dalam penokohan diatas, menurut saya adalah salah satu cara dakwah yang dilakukanya, suatu upaya untuk menumbuhkan kepada pembaca bahwa betapa mulia orang yang berilmu dan ahli ibadah. Dakwah yang dilakukan itu sangat halus. Adapun aspek-aspek religius itu yakni, Aqidah, Syari’ah, dan akhlak. Adapun yang penjelasan mengenai aspek-aspek tersebut sebagai berikut:

1.      Aqidah
            Dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wjick karya Hamka aqidah atau  kepercayaannya sangat kental dengan budaya islami untuk lebih jelasnya penulis memaparkan penggalan ceritanya sebagai berikut :
“lepaskan saya berangkat ke Padang. Kabarnya konon, disana hari ini telah ada sekolah agama. Pelajaran akhirat telah diatur dengan sebagus-bagusnya apalagi, puncak singgalang dan merapi sangat keras seruannya kepada ku rasanya. Saya hendak melihat tanah asalku, tanah tempat ayahku dilahirkan dahulunya. Mak Base banyak orang memuji daerah Padang, banyak orang yang bilang agama islam masuk kemaripun dari sanah. Lepaskan saya berangkat kesana”.

2.      Syari’ah
Kata syari’ah adalah bahasa Arab yang diambil dari rumpum kata syari’ah. Dalam bahasa Indonesia artinya jalan raya. Kemudian bermakna jalannya hukum, dengan kata lain perundang-undangan. Karena itu pula dengan perkataan atau istilah “Syari’ah Islam” memberi arti hidup yang harus dilalui atau perundang-undangan yang harus dipatuhi oleh seorang yang beragama islam. Hukum Tuhan itu adalah Syari’ah itu mengandung kebenaran mutlak, artinya tidak ada kelemahan dan pertentanagan dalam dirinya sendiri.

3.      Akhlak
Akhlak islam adalah suatu sikap mental dan perbuatan yang luhur. Dan novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wjickkarya Hamka, penulis menemukan berbagai akhlak yang sangat mulia terutama dari pemeran utama yakni tokoh Zainuddin. Kebaikan moral Zainuddin bias kita lihat pada penggalan cerita berikut ini:
“Zainuddin seorang yang terdidik lemah lembut, didik ahli seni, ahli syair, yang lebih suka mengalah untuk kepentingan orang lain”.

C.    Analisis Struktur Roman tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Hamka
Analisis karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengakji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Analisis strukturalnya sebagai berikut:
1.      Tema
Dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Hamka ini tenyang kisah tak sampai. Sangat kental dengan budaya Minang yang sangat patuh akan peraturan adat.
Adapula penggalan ceritanya:
“apa yang dikerjakannya, padahal cinta adalah sebagai kemudi dari bahtera kehidupan. Sekarang kemudi itu dicabut, kemana dia hendak berlabuh, teroleng terhempas kian kemari, daratan tak nampak, pulau kelihatan. Demikianlah nasib anak muda yang maksudnya tiada sampai”.

2.      Alur/Plato
Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka menggunakan alur maju mundur, karena menceritakan hal-hal yang sudah lampau atau masa lalu dan kembali lagi membahas hal yang nyata atau kembali ke cerita baru dan berlanjut. Ada lima tingkatan alur yakni:
a.       Penyituasian
Tahap penyituasian, tahap yang terutama berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita. Tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita, memberikan informasi awal dan lain-lain.
Berikut ini merupakan tahap awal dari roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka yang berkaitan dengan tahap penyituasian.
“Di tepi pantai, di antara kampong Bara dan kampung Mariso berdiri sebuah rumah bentuk Makasar, yang salah satu jendelanya menghadap ke laut. Di sanalah seorang anak muda yang berusia kira-kira 19 tahun duduk termenung seorang diri menghadapkan mukanya ke laut. Meskipun matanya terpentang lebar, meskipun begitu asyik dia memperhatikan keindahan alam di lautan Makasar, rupanya pikiranya telah melayang jauh sekali, ke balik yang tak tampak di mata, dari lautan dunia pindah ke lautan khaya”.

b.      Konflik
Tahap pemunculan konflik, masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Jadi tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik, dan konflik itu sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik, dan konflik itu sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya. Kejadian dan konflik yang dialami tokoh Hayati dan Zainuddin dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka bisa dilihat dari penggalan cerita berikut ini:
“Sesungguhnya persahabatan yang rapat dan jujur diantara kedua orang muda itu, kian lama kian tersiarkan dalam dudun kecil itu. Di dusun belumlah orang dapat memendang kejadian ini dengan penyelidikan yang seksama dan adil. Orang belum kenal percintaan suci yang terdengar sekarang, yang pindah dari mulut ke mulut, ialah bahwa Hayati, kemenakan Datuk telah ber “intaian” bermain mata, berkirim-kirim surat dengan anak orang Makasar itu. Gunjing, bisik dan desus perkataan yang tak berujung pangkal, pun ratalah dan pindah dari satu mulut ke mulut yang lain, jadi pembicaran dalam kalangan anak muda-muda yang duduk di pelatar lepau petang hari.Hingga akhirnya telah menjadi rahasia umum. Orang-orang perempuan berbisik-bisik di pancuran tempat mandi, kelak bila kelihatan Hayati mandi di sana, mereka pun berbisik dan mendaham, sambil melihat kepadanya dengan sudut mata. Anak-anak muda yang masih belum kawin dalam kampung sangat naik darah.Bagi mereka adalah perbuatan demikian merendahkan derajat mereka seakan -akan kampung tak berpenjaga.yang terutama sekali yang dihinakan orang adalah persukuan Hayati, terutama mamaknya sendiri Datuk yang dikatakan buta saja matanya melihat kemenakannya membuat malu, melangkahi kepala ninik –mamak”.


c.       Tahap Peningkatan Konflik
Konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya. Tahap peningkatan konflik dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka terjadi ketika Zainuddin dan Aziz sama-sama mengirimkan surat kepada orang tua Hayati, dari lamaran kedua pemuda itu, ternyata lamaran Aziz yang diterima karena orang tua Hayati mengetahui latar belakang pemuda yang kaya raya itu, sedangkan lamaran Zainuddin ditolak karena orang tua Hayati tidak ingin anaknya bersuamikan orang miskin. Hal ini bisa terlihat dari penggalan cerita berikut ini:
”Kalam dia tertolak lantaran dia tidak ber-uang maka ada tersedia uang Rp.3000,- yang dapat dipergunakan untuk menghadapi gelombang kehidupan sebagai seorang makhluk yang tawakkal”.

d.      Klimaks
Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh (tokoh utama) yang berperan sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik utama. Dalam Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, tahap klimaks terjadi ketika Aziz meminta supaya Zainuddin menikahi Hayati. Sekalipun dalam hati Zainuddin masih mencintai Hayati, Zainuddin menolak permintaan Aziz. Bahkan Zainuddin memulamgkan Hayati ke kampung halamannya dengan menggunakan Kapal Van Der Wijck. Hal ini bisa dilihat pada pernyataan berikut:
“Bila terjadi akan itu, terus dia berkata: “Tidak Hayati ! kau mesti pulang kembali ke Padang! Biarkan saya dalam keadaan begini. Pulanglah ke Minangkabau! Janganlah hendak ditumpang hidup saya , orang tak tentu asal ….Negeri Minangkabau beradat !.....Besok hari senin, ada Kapal berangkat dari Surabaya ke Tanjung Periuk, akan terus ke Padang! Kau boleh menumpang dengan kapal itu, ke kampungmu”.

e.       Penyelesaian
Tahap penyelasaian dalam novel Tenggelamya Kapal Van Der Wijck karya Hamka ketika Zainuddin mendapat kabar bahwa Kapal yang ditumpangi Hayati tenggelam, sedangkan Hayati dirawat di Rumah Sakit Tuban. Dengan diterima Muluk sahabatnya Zainuddin menengok wanita yang sangat dicintainya itu. Rupanya pertemuan mereka itu adalah pertemuan yang terakhir karena Hayati menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam pelukan Zainuddin. Kejadian itu membuat Zainuddin merasakan penyesalan yang berkepanjangan hingga Zainuddin jatuh sakit dan meninggal dunia. Zainuddin dimakamkan di sebelah makam Hayati.

3.      Setting/latar
Latar dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka berlatar di daerah Minangkabau dan Makasar.

4.      Sudut Pandang
Pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka menggunakan sudut pandang orang ketiga tunggal karena menyebutkan dan menceritakan secara langsung karakter pelakunya secara gamblang. Penggalan cerita pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka sebagai berikut:
“Mula-mula datang, sangatlah gembira hati Zainuddin telah sampai ke negeri yang selama ini jadi kenang-kenagannya”.

5.      Karakter
Pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka terdapat beberapa karakter diantaranya:
Karakter utama (mayor karakter, protagonis) adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh karakter utama yang ada dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka adalah tokoh Zainuddin, yang memiliki sopan santun dan kebaikan pada semua orang. Sedangkan yang lainnya yang menjadi tokoh protagonisnya adalah tokoh Hayati yang menjadi kekasih Zainuddin. Penggalan cerita yang menunjukkan Zainuddin adalah karakter yang baik adalah:
“Zainuddin seorang yang terdidik lemah lembut, didikan ahli seni, ahli sya’ir, yang lebih suka mengalah untuk kepentingan orang lain”.
Karakter pendukung (minor karakter, antagonis) sosok tokoh antagonis dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka adalah tokoh Aziz, karena tokoh Aziz di sini mempunyai sikap yang kasar dan sering menyakiti istrinya, dan tidak mempunyai tanggung jawab dalam keluarga dan selalu berbuat kejahatan karena sering main judi dan main perempuan.
“ketika akan meninggalakan rumah itu masih sempat juga Aziz menikamkan kata-kata yang tajam kesudut hati Hayati. sial”. (hal:180)
Sedangkan yang menjadi karakter pelengkap adalah Muluk dan Mak Base karena keduanya adalah sosok yang bijak dan selalu berada di samping tokoh utama untuk memberi nasehat dan sangat setia menemani tokoh utama sampai akhir cerita.

6.      Gaya Bahasa
Dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka menggunakan kalimat yang sangat kompleks karena menggunakan bahasa melayu yang baku. Seperti dalam penggalan cerita berikut ini:
“Lepaskan Mak, jangan bermenung juga,” bagaimana Mamak tidak akan bermenung, bagaimana hati mamak tidak akan berat”. (hal:

7.      Amanat
Dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka mengandung nilai moral yang tinggi ini terlihat dari para tokoh yang ada seperti Zainuddin. Hal tersebut bisa kita lihat dari panggilan cerita berikut ini:
“Demikian penghabisan kehidupan orang besar itu. Seorang di antara Pembina yang menegakkan batu pertama dari kemuliaan bangsanya; yang hidup didesak dan dilamun oleh cinta. Dan sampai matipun dalam penuh cinta. Tetapi sungguhpun dia meninggal namun riwayat tanah air tidaklah akan dapat melupakan namanya dan tidaklah akan sanggup menghilangkan jasanya. Karena demikian nasib tiap-tiap orang yang bercita-cita tinggi kesenangannya buat orang lain. Buat dirinya sendiri tidak”. (hal:223)























PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data tentang novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Struktur novel terdiri dari tema, alur/plot, setting/latar, sudut pandang, karakter, gaya bahasa, dan amanat, di mana hubungan antar unsur dalam novel ini menunjukkan hubungan yang begitu padu sehinggga menghasilkan jalinan cerita yang sangat menarik.
2. Unsur religiusitas novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka mengandung aspek aqidah, syariah, dan akhlak yang tergambar dalam setiap perilaku tokoh yang dimainkan, di samping itu pengarang sendiri sebagai seorang agamawan yang begitu kental memasukkan unsur–unsur agama ke dalam novel ini.                                
















DAFTAR PUSTAKA

Hamka. (2012). Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Jakarta: Bulan Bintang.