Selasa, 14 Mei 2019

Makalah Sejarah Pemikiran Modern "Pengertian Filsafat"


MAKALAH
SEJARAH PEMIKIRAN MODERN
“PENGERTIAN FILSAFAT”

Dosen pengampu :
Velayati Khairiah Akbar, S.pd., M.pd.
Disusun oleh :
Bagas Prasetyo (2016070316)
Dona Riskiana (2016070111)
Ikhsan Farid (2016070021)
Siska khoerunisa (2016070122)


FAKULTAS SASTRA
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS PAMULANG
2019
Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyeleselaikan makalah ini hingga selesai. Tidak lupa penulis juga mengucapkan banyak terimaksaih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan materi maupun pikirannya.
Harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca mengenai pengertian filsafat. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penulis, kami yakin masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.



Pamulang, 19 Maret 2019

Penulis









DAFTAR ISI
JUDUL UTAMA MAKALAH
KATA PENGANTAR                                                                                                          
DAFTAR ISI                                                                                                                         
BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar belakang                                                                                                                       
  2. Rumusan Masalah                                                                                                      
  3. Tujuan Penulisan                                                                                                        
BAB II PEMBAHASAN
  1. Sejarah Pemikiran Modern                                                                                         
  2. Pengertian Filsafat Secara Umum                                                                              
  3. Pengertian Filsafat Menurut Para Ahli                                                                      
BAB III PENUTUP
  1. Simpulan                                                                                                                    
  2. Saran                                                                                                                          















BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pemikiran dapat dijabarkan dengan perumpamaan sebagai berikut : otak sebagai hardware, dan logika sebagai software. Namun yang banyak kita lihat saat ini bahwa kebanyakan manusia menjalani hidup dengan tidak menggunakan otak dan hati sehingga mereka merasa hidup dengan alami tanpa mengalami kemajuan. Manusia seharusnya hidupnya terprogram (oleh diri masing-masing) baik lahir, maupun batinnya yang bisa didapatkan dengan pendidikan. Inilah yang dimaksud dengan pemikiran modern, yaitu berpikir sesuai dengan program/terprogram. Setiap orang harus paham akan adanya perbedaan di dunia ini yang sebenarnya membuat hidup menjadi indah. Juga pada kenyataan bahwa jaman terus berjalan dan berkembang, manusia harus menyesuaikan keadaan tersebut. Manusia harus berusaha bertahan hidup dengan cara yang benar pada jaman dimana dia hidup.
Adanya kebudayaan, pemikiran, dan pemahaman yang berbeda dari negara-negara barat dan negara timur maka secara umum didapatkan dua filsafat yang berbeda, yaitu filsafat barat dan filsafat timur. yang pertama filsafat timur menganut pemahaman Cosmosentris (Pusat pemikiran ada pada alam). Jadi manusia merupakan bagian dari alam. yang kedua filsafat barat Pada jaman kuno menganut cosmosentris, tapi sejak kemunculan Socrates mereka berubah menganut pemahaman Antroposentris (Pusat pemikiran ada pada manusia). Jad imanusialah yang medapatkan peran, dan manusialah yang memilih.
B.     Rumusan Masalah
1.      Jelaskan pengertian sejarah pemikiran modern?
2.      Jelaskan pengertian filsafat secara umum?
3.      Jelaskan pengertian filsafat menurut paara ahli?
C.    Tujuan Penelitian
1.      Untuk dapat mengetahui pengertian sejarah pemikiran modern secara umum.
2.      untuk dapat mengetahui pengertian filsafat secara umum.
3.      untuk dapat mengetahui pengertian filsafat menurut para ahli.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Pemikiran Modern
Sejarah pemikiran modern berlangsung antara tahun 1500-1800. Pemikiran modern lahir dari konteks sosial, politik, religius, ilmu pengetahuan dan ekonomi zamannya yang ditandai oleh berbagai fenomena (berakhirnya dominasi Gereja dan aristokrat dalam berbagai bidang, reformasi dan kontra-reformasi, emansipasi kelas-kelas sosial, pembaruan tatanan politik, revolusi ilmu pengetahuan) yang menuntut sumbangan pemikiran filosofis demi transformasi budaya.
Humanisme dan renesans mengawali periode filsafat modern. Burdoch menjelaskan keduanya sebagai satu fenomen budaya yang sama yang membawa spirit dan visi pembaruan dengan menggunakan sarana studia humanitatis. Pemicu filsafat modern adalah revolusi ilmiah yang diprkarsai Copernicus dan dikembangkan oleh Kepler, Brahe, Galilei, dan Newton, yang menawarkan berbagai perubahan dalam cara pandang terhadap kosmos, manusia, dan Allah. Filsafat pun berkembang membahas matra-matra sosial-politik seperti yang digeluti Machiaveli, More, Bodin hingga Grotius. Selanjutnya dibahas persoalan seputar metode dan kritik. Dalam hal ini lahir aliran pemikiran rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme menekankan dasar pengetahuan yang sifatnya apriori. Para rasionalis seperti Descartes, Leibniz, Spinoza, mengungkapkan bahwa sumber pengetahuan adalah akal (rasio) dan pengalaman hanya digunakan sebagai alat untuk mendukung apa yang telah dipikirkan sebelumnya. Empirisme yang didukung oleh tokoh-tokoh semisal Hobbes, Locke, dan Hume, mengedepankan sifat aposteriori pengetahuan dengan menekankan bahwa pengalaman inderawi sebagai satu-satunya sumber pengetahuana yang absah. Selanjutnya sekitar abad-18 di Eropa lahirlah masa yang disebut zaman pencerahan (Aufklẚrung), yang mengedepankan pendewaan ilmu pengetahuan, perkembangan paham empirisme, rasionalisme, anti-tradisi, dan optimisme utopis.
Pada masa-masa ini, Kant hadir dengan filsafat kritisisme-nya dengan membangun suatu sintesis apriori sebagai dasar pemikiran yang benar. Filsafat transendental Kant memberi pengaruh yang amat besar bagi pemikiran-pemikiran selanjutnya. Sebagai reaksi terhadap zaman pencerahan, lahirlah zaman Romantik yang menekankan sensus, gairah, tradisi, hingga sejarah. Muncul pula aliran idealisme yang berpendapat realitas seluruhnya adalah buah aktivitas subjek; (para idealis Jerman, Fichte, Schelling dan Hegel). Posisi global Hegel, idealisme logis-historis (yang memahami realitas sebagai konstruksi logis dunia oleh manusia yang dalam lintasan zaman dalam hidup menerima pengalaman pribadi konkret dalam semua matra) menjadi hasil akhir seluruh proses historis kultural modern; merangkum seluruh peralihan humanisme teosentris-humanisme antroposentris.
B.     Pengertian Filsafat Secara Umum
Filsafat adalah kajian masalah umum dan mendasar tentang persoalan seperti eksistensi, pengetahuan, nilai, akal, pikiran, dan bahasa. Pengertian filsafat secara umum bisa diartikan sebagai suatu kebijaksanaan hidup (filosofia) untuk memberikan suatu pandangan hidup yang menyeluruh berdasarkan refleksi atas pengalaman hidup maupun pengalaman ilmiah. Filsafat bisa juga diartikan sebagai ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat sendiri merupakan suatu ilmu pengetahuan karena memiliki logika, metode dan sistem. Namun filsafat berbeda dari ilmu-ilmu pengetahuan kehidupan lainnya oleh karena memiliki obyek tersendiri yang sangat luas.
Filsafat juga merupakan studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, harus dan mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Logika adalah sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filsafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak disamping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tertsentuholeh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptic yang mempertanyakan segala hal.
Adapun tujuan dari filsafat adalah untuk memperoleh kebenaran yang bersifat dasar dan menyeluruh dalam sistem yang konseptual. Filsafat menghasilkan pula kebenaran yang bersifat abstrak, spekulatif akan tetapi tidak mampu mengetahui bagaimana cara mengadakannya.


C.    Pengertian Filsafat Menurut Para Ahli
Kerana luasnya lingkungan pembahasan mengenai ilmu filsafat ini, maka para filsuf atau ahli filsafat baik dari barat maupun timur berbeda beda dalam mendefiniskan mengenai apa itu filsafat. Untuk lebih jelasnya, simak berikut ini pengertian filsafat menurut para ahli dan pakar filsuf secara lengkap.
1.      Menurut Aristoteles
Filsafat merupakan akar dari semua ilmu pengetahuan sehingga disebut sebagai The Mother of Science. Karakteristik ilmu filsafat yang mencakup menyeluruh, artinya pemikiran yang luas, pemikiran yang meliputi beberapa sudut pandang; Mendasar, artinya pemikiran mendalam sampai kepada hasil yang fundamental (keluar dari gejala); spekulatif, artinya hasil pemikiran yang diperoleh dijadikan dasar bagi pemikiran-pemikiran selanjutnya dan hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai medan garapan (obyek) yang baru pula. Karakteristik tersebut dijadikan dasar dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang lain.
Perlu diketahui bahwa ilmu filsafat lahir pada zaman Yunani kuno. Filsafat pada masa itu mengalami perkembangan dan penekanan pada aspek yang berbeda. Filsafat cenderung menekankan penggunaan akal dan hati dalam proses berpikir manusia. Ilmu filsafat mengalami periodesasi dalam perkembangannya yaitu filsafat yunani kuno, filsafat abad pertengahan, filsafat abad modern, dan filsafat abad pasca modern.
2.      Menurut Immanuel Kant
Filsafat menurut Immanuel Kant adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkat dari segala pengetahuan yang di dalamnya tercakup empat persoalan yaitu:
a.       Apakah yang dapat kita kerjakan (jawabannya metafisika).
b.      Apakah yang seharusnya kita kerjakan (etika).
c.       Sampai di manakah harapan kita (agama).
d.      Apakah yang dinamakan manusia (antropologi).
Filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada dan yang mungkin ada. Filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung didalmnya ilmu-ilmu metafisika, etika, ekonomi, politik dan estetika.
3.      Menurut Al Farabi
Bagi al-farabi, tujuan filsafat dan agama adalah sama, yaitu mengetahui semua wujud. Hanya saja filsafat memakai dalil-dalil yang diyakini dan ditujukan kepada golongan tertentu, sedang agama memakai cara iqna’iy (pemuasan  perasaan) dan kiasan-kiasan serta gambaran untuk semua orang. Pemahaman ini didasarkan pada pengertian al-farabi tentang filsafat sebagai upaya untuk mengetahui semua yang wujud karena ia wujud (al-ilm bil maujudat bima hiya maujudah).
4.      Menurut Socrates
Filsafat adalah suatu bentuk peninjauan diri yang bersifat reflektif atau berupa perenungan terhadap azas-azas dari keidupan yang adil dan bahagia. Socrates menyatakan bahwa akal budi harus menjadi norma terpenting untuk tindakan kita. Dengan pemikiran filsafatnya ia selalu berusaha menyelidiki manusia secara keseluruhan yaitu dengan menghargai nilai-nilai jasmaniah dan rohaniah, dimana keduanya tidak dapat dipisahkan karena dengan keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang dihasilkan.
Dalam kasus situasi yang kacau Socrates tampil karena filsafat untuk menghadapi pengaruh kaum sophis. Metode yang dipakai Socrates untuk menghadapi kaum sophis itu dikenal dengan metode dialektis-kritis (dialektika), yaitu “dialog antara dua pendirian yang bertentangan” . sedangkan sifat kritis itu berarti Socrates tidak mau menerima begitu saja sesuatu pengertian dari orang yang dianggapnya ahli dalam suatu bidang tertentu.
5.      Menurut Plato
Dalam kehidupan didunia setiap orang pasti memiliki dan mempelajari ilmu pengetahuan. Pengetahuan itu sendiri artinya semua yang diketahui oleh orang tersebut. Dan sangat penting dan bermanfaat dalam kehidupan. Ilmu pengatahua yang dimiliki oleh setiap individu, tidak harus lurus berasal dari sekolah atau guru, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari tentang apa yang kita lakukan. Sebagai contohnya adalah pengalaman karena dengan pengalaman kita akan mengerti dan dapat memahami, serta dapat kita jadikan sebagai pengetahuan.
Ilmu pengetahuan tidak hanya pengetahuan sosial dan alam, tetapi berkaitan dengan hal lainnya. Contohnya tentang filsafat ilmu. Filsafat ilmu dalam Bahasa Inggris disebut phyloshopy. Dala artian umum adalah ilmu yang mencakup hal-hal umum yang objectnya  abstrak, mempunyai sifat rasional, berkarakter, berhakikat yang memunyai cara kerja yang berbeda-beda, serta sebagai landasan fondasi dasar dalam mendidik dan landasan filosofi yang mempunyai seluruh kebijaksanaan pelaksanaan pendidikan.


6.      Menurut Hasbullah Bakry
Menurut Hasbullah Bakry dalam bukunya Sistematik Filsafat, (1971:11) mendefinisikan bahwa  filsafat merupakan sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mngenai ketuhanan, alam semesta dan manusia. Sehunnga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya dan sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setalah mengetahui pengetahuan tersebut. Dari penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang mencakup objek umum dan bersifat rasional yang menjelaskan bagaimana manusia menerapkan dan mengembangkan hal tersebut dalam kehidupannya.
7.      Menurut Ir. Poedjawijatna
filsafat ialah ada dan yang mungkin ada. Dapatkah dikatakan bahwa filsafat itu keseluruhan dari segala ilmu yang menyelidiki segala sesuatunya juga?’ Dapat dikatakan bahwa objek filsafat yang kami maksud adalah objek materialnya-sama dengan objek material dari ilmu seluruhnya. Akan tetapi, filsafat tetap filsafat dan bukan merupakan kumpulan atau keseluruhan ilmu
8.      Menurut Notonagoro
Studi filsafat dimaksudkan untuk “pendidikan mental”. Pendidikan umum yang dimaksudkan adalah cara atau bentuk mentalitas filsafat yang memuat tujuan khusus dan tujuan umum. Adapun tujuan hususnya adalah menjadikan manusia yang berilmu. Sedangkan tujuan umumnya adalah menjadikan manusia yang susila. Filsafat akan mengajarkan kepada kita tentang kesadaran, kemauan, dan kemampuan manusia sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk individu, makhluk social, dan makhluk Tuhan untuk diaplikasikan dalam hidup.
9.      Harun Nasution
Pendapat beliau, bahwa Filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dan bebas (tidak terikat tradisi, agama, atau dogma) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar (radix; akar) persoalan. Setiap tokoh memiliki ciri khas pemikiran dan latar belakang pemikirannya masing-masing. Bila tidak berlebihan, dapat dikatakan bahwa titik tolak pemikiran Harun Nasution adalah pemikiran Mu’tazilah yang sudah diupamnya. Fauzan Saleh mengatakan bahwa pemikiran Mu’tazilah tersebut diperkenalkan oleh Harun Nasution secara lebih komprehensif. Inti pembaharuan pemikiran Harun Nasution sebenarnya tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya yaitu menekankan tentang ijtihad. Akan tetapi Harun Nasution sudah masuk dalam tataran pembahasan yang sudah lebih mendalam tentang teologi.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Objek material filsafat merupakan suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu atau hal yang di selidiki, di pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa saja baik hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.  Sedangkan Objek formal filsafat ilmu tidak terbatas pada apa yang mampu diindrawi saja, melainkan seluruh hakikat sesuatu baik yang nyata maupun yang abstrak.
Obyek material filsafat ilmu itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan objek formal filsafat ilmu (pengetahuan ilmiah) itu bersifat khusus dan empiris. objek material mempelajari secara langsung pekerjaan akal dan mengevaluasi hasil-hasil dari objek formal ilmu itu dan mengujinya dengan realisasi praktis yang sebenarnya.  Sedangkan Obyek formal filsafat ilmu menyelidiki segala sesuatu itu guna mengerti sedalam dalamnya, atau mengerti obyek material itu secara hakiki, mengerti kodrat segala sesuatu itu secara mendalam (to know the nature of everything). Obyek formal inilah sudut pandangan yang membedakan watak filsafat dengan pengetahuan. Karena filsafat berusaha mengerti sesuatu sedalam dalamnya.
Dengan mengetahui hakikat dari segala yang ada, maka sudah barangtentu jika perkembangan ilmu dapat dilakukan dengan pesat seiring dengan perkembangan zaman. dapat disimpulkan bahwa objek Materil filsafat adalah segala sesuatu yang terwujud secara nyata dalam sudut pandang dan kajian yang mendalam (radikal).

B.     Saran
Saran penulis dalam makalahini adalah agar pembaca senantiasa memperbanyak membaca dan memperdalam lagi untuk mencari informasi lebih mengenai makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA


Makalah Semiotika Charles Pierce


MAKALAH
SEMIOTIKA CHARLES PIERCE
Makalah ini diajukan sebagai tugas Mata kuliah Semiotik Sastra
Dosen Pengampu:
Zaky Mubarok
Ruang: V.526
Disusun Oleh:
Rofif Syuja’ Mu’tasyim
M. Pilos Yaprilsen
Fadel Muhammad Sofyan


PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS PAMULANG
2019

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah hingga selesai. Tidak lupa penulis juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan materi maupun pikirannya.
Harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca mengenai Semiotika Charles Pierce. untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penulis, kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini. oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.


Pamulang, 25 Maret 2019

  Penulis





i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR                                                                                              i
DAFTAR ISI                                                                                                              ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang                                                                                               
1.2  Rumusan Masalah                                                                                          
1.3  Tujuan Penulisan                                                                                            
1.4  Manfaat  Penulisan                                                                                        
BAB II PEMBAHASAN
2.1  Pengertian  Semiotik                                                                                      
2.2  Teori Semiotiks Menurut Charles Pierce                                                        
2.3  Biografi Charles Pierce                                                                                  
BAB III PENUTUP
A.    Simpulan                                                                                                        
B.     Saran                                                                                                              










ii
BAB I
PENDAHULAN
1.1  Latar Belakang
Dalam proses komunikasi secara primer, lambang atau  simbol digunakan sebagai media dalam penyampaian gagasan atau perasaan seseorang kepada orang lain. Lambang di dalam proses komunikasi meliputi bahasa, gestur, isyarat, gambar, warna, dan tanda-tanda lainnya yang dapat menerjemahkan suatu gagasan atau perasaan seeorang (komunikator) kepada orang lain (komunikasi) secara langsung. Dari berbagai lambang yang dapat digunakan di dalam proses komunikasi, bahasa merupakan media yang paling banyak dipakai karena paling memungkinkan untuk menjelaskan pemikiran seseorang, dan dengan bahasa pula segala kejadian masa lalu, masa kini, maupun ramalan masa depan dapat dijelaskan.
Fungsi bahasa yang sedemikian rupa menyebabkan ilmu pengetahuan dapat berkembang dan hanya dengan kemampuan berbahasa, manusia dapat mempelajari ilmu pengetahuan. Kegagalan dalam proses komunikasi banyak disebabkan oleh kesalahan berbahasa atau ketidakmampuan memahami bahasa.
Semiotik merupakan ilmu atau metode ilmiah untuk melakukan analisis terhadap tanda dan segala hal yang berhubungan dengan tanda. Tanda merupakan bagian yang penting dari bahasa, karena bahasa itu sendiri terdiri dari kumpulan lambang-lambang , dimana dalam lambang-lambang itu terdapat tanda-tanda. Oleh karenanya tentu ada kaitan yang erat antara semiotika dengan proses komunikasi, mengingat semiotika merupakan unsur pembangun bahasa dan bahasa merupakan media dalam proses komunikasi. Pentingnya semiotika dalam komunikasi mendorong para ahli dan ilmuan semiotik untuk merumuskan berbagai macam teori semiotika. Teori-teori tersebut teruss berkembang dan saling melengkapi.
Menurut Barthes, bahasa berpengaruh dalam semua aspek kehidupan dan ia boleh ditinjau melalui karya-karya yang terhasil. Karya merupakan cerminan realiti sebenar yang diungkap dala bentuk tulisan.
Menurut Mana Sikana (1985: 175), pendekatan semiotik melihat karya sastra sebagai satu sistem yang mempunyai hubungan dengan teknik dan mekanisme penciptaan sebuah karya. Ia juga memberi tumpuan kepada penelitian dari sudut ekspresi dan komunikasi.
Semiotik adalah sebuah disiplin ilmu sains umm yang mengkaji sistem perlambangan di setiap bidang kehidupan. Ia bukan saja merangkumi sistem bahasa, tetapi juga merangkumi lukisan, ukiran, fotografi maupun pementasan drama atau wayang gambar.





















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Semiotika
Semiotika adalah kajian ilmu mengenai tanda yang ada dalam kehidupan manusia serta makna dibalik tanda tersebut. Ada beberapa pendapat mengenai asal kata semiotika yang keduanya dari bahasa Yunani, pertama adalah seme yang berarti “penafsiran tanda”, sedangkan yang kedua adalah semeion yang berarti “tanda”. Secara terminologis, semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda (van Zoest, 1993:1). Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas obyek-obyek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan, sebagai tanda.[1] tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanyahal lain.
Ahli sastra Teew (1984:6[2]. Mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindak komnikasi dan kemudian disempurnakannya menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat mana pun. Semiotik merupakan cabang ilmu yang relatif masih baru. Penggunaan tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dipelajari secara lebih sistematis pada abad kedua puluh.






2.2 Teori Semiotika Menurut Charles Sanders Peirce 
Pendekatan tanda yang didasarkan pada pandangan seorang filsuf dan pemikir Amerika yang cerdas, Charles Sanders Peirce (1839-1914). Peirce (Berger, 2000 b:14, dalam Sobur, 2006:34-35) menandaskan bahwa tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang menyerupainya, keberadaannya memiliki hubungan sebab akibat dengan tanda-tanda atau karena ikatan konvensional dengan tanda-tanda tersebut. Ia menggunakan istilah ikon untuk kesamaannya, indeks untuk hubungan sebab akibat, dan simbol untuk asosiasi konvensional.
Tabel berikut ini bisa memperjelas hubungan tanda-tanda:

Tanda
Ikon
Indeks
Simbol




Ditandai dengan:
Persamaan (kesamaan)
Hubungan sebab-akibat
Konvensi
Contoh:
Gambar-gambar,Patung-patung, Tokoh besar
Asap/Api,Gejala/penyakit, Bercak merah/campak
Kata-kata, Isyarat
Proses
Dapat dilihat
Dapat diperkirakan
Harus dipelajari
Menurut Peirce, sebuah analisis tentang esensi tanda mengarah pada pembuktian bahwa setiap tanda ditentukan oleh objeknya:
1.      Dengan mengikuti sifat objeknya, ketika menyebut tanda sebuah ikon.
2.      Menjadi kenyataan dan keberadaannya berkaitan dengan objek individual, ketika menyebut tanda sebuah indeks.
3.      Kurang lebih, perkiraan yang pasti bahwa hal itu diintrepretasikan sebagai objek denotatif sebagai akibat dari suatu kebiasaan ketika menyebut tanda sebuah simbol.


Peirce (Pateda, 2001:44, dalam Sobur, 2006:41) mengadakan klasifikasi tanda-tanda yang dikaitkan dengan ground (sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi) diklasifikasikan menjadi:
a.Qualisign
Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda, misalnya kata-kata kasar, keras, lemah, lembut, merdu.
b. Sinsign
Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda, misalnya kata kabur atau keruh yang ada pada urutan kata air sungai keruh yang menandakan bahwa ada hujan di hulu sungai.
c. Legisign
Legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda, misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan manusia.
Berdasarkan objeknya, Peirce membagi tanda atas:
1.Ikon
Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat bersamaan bentuk alamiah. Atau dengan kata lain, ikon adalah hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan, misalnya, potret dan peta.
2. Indeks
Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. Contoh yang paling jelas ialah asap sebagai tanda adanya api.



3. Simbol
Simbol adalah tanda yang menunjukan hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya, hubungan di antaranya bersifat arbiter, hubungan berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat.
Memahami teori semiotika Charles Sanders Peirce yang diuraikan di atas, maka penelitian iklan susu bubuk Milo pada media cetak khususnya majalah Bobo akan lebih memfokuskan pada teori tersebut, karena teori semiotika yang di paparkan oleh Charles Sanders Peirce memiliki makna yang terkandung terhadap sifat objek nya.
Dalam teori ini ditemukan bahwa ada keterkaitan atau hubungan antara tanda-tanda yang satu dengan yang lainnya, sehingga banyak mengandung makna dalam tanda-tanda suatu objek yang diteliti.Teori ini dapat menguraikan makna yang terdapat dalam tanda suatu objek, baik itu dari ikon, indeks, maupun simbol.
Dengan demikian uraian teori di atas sangat membantu dalam menganalisa suatu relasi tanda dengan elemen-elemen visual lainnya dan pesan komunikasi yang terkandung dalam iklan susu bubuk Milo pada media cetak khususnya majalah Bobo. Karena dalam iklan susu bubuk Milo dengan kategori yang berbeda banyak menampilkan visualisasi yang menarik untuk diteliti dengan teori tersebut sehingga makna yang terkandung dalam visualisasi tersebut dapat diketahui.
2.3  Biografi Charles Pierce
Charles Sanders Pierce lahir pada 10 September 1839 di Cambridge, Massachusetts, dan meninggal 19 April, 1914 di Milford, Pennsylvania. Dia adalah seorang ahli logika, filsuf, dan ilmuwan. Sebagai putra Benjamin Charles Sanders Peirce, seorang ilmuwan terkemuka dan guru besar matematika di Harvard, Charles Sanders Peirce dibesarkan di lingkungan keluarga intelektual. Di bawah bimbingan dan pendidikan ayahnya,  pada usianya yang baru menginjak dua belas tahun ia telah tertarik dengan logika.
            Pada tahun 1855, Charles Sanders Peirce memulai studinya di Harvard. Di sana ia memulai persahabatan seumur hidup dengan filsuf dan psikolog William James, yang sangat mendukung dia dalam sebagian besar hidupnya. Selama tahun pertama, Charles Sanders Peirce melakukan penelitian pribadi dalam filsafat, terutama berfokus pada Kant. Ia lulus pada tahun 1859 dan kemudian melanjutkan studinya untuk mengejar Master, dan ia memperoleh gelar MA dari Harvard pada 1862. Empat tahun kemudian, ia juga memperoleh gelar Bachelors of Science, summa cum laude, dalam ilmu kimia.
            Dari 1859 sampai 1891, Charles Sanders Peirce bekerja sebagai ilmuwan untuk United States Coast dan Geodetic Survey, sambil melanjutkan studinya dalam logika. Selama masa kerjanya di Survey tersebut, Charles Sanders Peirce dikirim ke Eropa pada 1870-1871 untuk bekerja, dan sekali lagi pada tahun 1875-1876 dan 1877. Dia juga bekerja sebagai asisten di observatorium astronomi di Harvard, antara tahun 1869 dan 1872. Hasilnya, ia menerbitkan Photometric Research (1878), yang ternyata menjadi satu-satunya bukunya yang diterbitkan selama hidupnya.
            Pada tahun 1867, ia menjadi anggota The Academy of Arts dan sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1877, menjadi anggota National Academy of Sciences. Dia diangkat menjadi dosen dalam ilmu logika di Universitas Johns Hopkins di 1879. Dia dipecat dari jabatannya beberapa tahun kemudian, di 1884, seperti yang diumumkan, ia menempuh kehidupan “gipsi “meskipun masih menikah. Dari kuliahnya itu, Charles Sanders Peirce mengedit Studies in Logic  (1883), koleksi esai para ilmuwan dan mahasiswanya.
            Masih bekerja untuk Survey, Charles Sanders Peirce tinggal di Washington selama dua tahun setelah pemecatannya. Pada tahun 1891, ia kemudian harus meninggalkan U.S. Coast Survey. Setelah keluar, Charles Sanders Peirce membeli rumah dan properti di Milford, Pennsylvania, di mana dia tinggal sampai kematiannya. Inilah waktunya ketika ia didera  kemiskinan yang mengenaskan. Charles Sanders Peirce tergantung pada bantuan keuangan orang lain dan tidak memiliki penghasilan lain selain  pekerjaan sporadis sebagai penerjemah dan konsultan ilmiah. William James tetap berkomitmen dan mencoba untuk membantu Charles Sanders Peirce. antara lain ia menyelenggarakan dua kuliah untuknya di Harvard agar ia memperoleh bayaran, dia juga mencari dukungan untuk Charles Sanders Peirce dari teman-temannya.
            Terlepas dari situasi keuangannya yang memprihatinkan, Pierce tetap produktif dalam menulis. Sepanjang hidupnya, Charles Sanders Peirce menerbitkan sejumlah besar artikel akademis dalam jurnal terkenal, seperti Proceeding American Academy of Arts and Sciences, atau American Journal of Matematics. Namun, banyak publikasi yang ditolak atau tidak pernah selesai. Reputasinya sebagai filsuf datang relatif terlambat.
            Menjadi seorang ahli kimia dengan pelatihan dan ahli geodesi melalu profesinya, Charles Sanders Peirce tetap dianggap sebagai filsuf ilmiah, terutama logika  sebagai keahliannya. Karya-karyanya yang paling terkenal adalah How to Make Our Ideas Clear, di mana ia mendirikan filsafat pragmatis, dan The Fixation of Belief, di mana ia membela metode ilmiah  yang baginya adalah satu-satunya cara, yang dengannya kemajuan menuju pengetahuan akan dapat dicapai. Keduanya diterbitkan dalam The Popular Science Monthly, serial  antara 1877 dan 1878.
           Meskipun minat utamanya adalah logika, dia terutama diakui sebagai pendiri mazhab pragmatisme, sebuah nama yang oleh Charles Sanders Peirce diubah menjadi “pragmaticism “pada tahun 1905 dalam rangka untuk memisahkan teori-teorinya. Charles Sanders Peirce pragmati(ci)sm didasarkan pada gagasan bahwa setiap konsep harus memiliki konsekuensi praktis dan dapat diamati, dengan asumsi bahwa nilai dari Konsep tergantung pada hasilnya. Akibatnya, salah satu kepentingan utamanya adalah untuk menunjukkan bagaimana filsafat dapat secara praktis diterapkan pada persoalan yang dihadapi manusia. Hal ini ia coba dengan menerapkan prinsip-prinsip ilmiah. Bagi Charles Sanders Peirce, filsafat harus didasarkan pada prinsip-prinsip matematika.
            Dalam karyanya How to Make Our Ideas Clear, Charles Sanders Peirce telah menegaskan demi sebuah  gagasan tentang konsep yang jelas membedakan antara tiga tingkat konsepsi. Sedangkan yang pertama terkait dengan keakraban dan bukti diri, kedua menganggap adanya hubungan antara realitas dan fiksi, yang berkaitan dengan sebuah penafsir. Tingkat ketiga berkaitan dengan konsepsi kita tentang efek, yang menyebabkan konsepsi kita terhadap sebuah object.
            Charles Sanders Peirce dikenal karena sering menggunakan angka tiga. Terlepas dari ilmu-ilmu (yang harus dibagi ke dalam ilmu-ilmu tentang penemuan, review, dan ilmu-ilmu praktis, dia membedakan antara tiga bentuk filsafat. Agar fenomenologi ini  sangat hirarkis (apa yang muncul : menyelidiki fenomena), ilmu normative (apa saja fenomena  norma-norma hubungan terhadap keindahan, kebaikan, dan kebenaran), dan metafisika (apa realitasnya terhadap fenomena). Bagi Charles Sanders Peirce, fenomenologi adalah cabang yang paling abstrak, sedangkan dua lainnya merupakan penerapan yang lebih konkret. Lebih lanjut, ia membedakan antara tiga unsur fenomenologi : firstness (kualitas ide-ide), secondness (eksistensi atau fakta), dan thirdness (pemahaman, atau tanda-tanda). Dia kemudian membagi ilmu pengetahuan normative menjadi estetika, etika, dan logika, dan metafisika menjadi metafisika umum  (ontologi), metafisika agama, dan metafisika fisik.
            Setelah menggeluti aljabar, grafik, problem empat warna dan sebagainya, Charles Sanders Peirce juga membuat beberapa penemuan penting dalam matematika, misalnya dalam “Logic of Relatives “(1870), di mana ia memperpanjang teori hubungan. “On the Algebra of Logic: A Contribution to the Philosophy of Notation “(1885) / “Di Aljabar Logika : Sebuah Kontribusi terhadap Filsafat Notasi “(1885) dikutip oleh Ernst Schröder yang dengannya Charles Sanders Peirce memiliki hubungan intensif. Pierce juga dianggap sebagai salah satu pendiri statistik. Sebagai seorang ilmuwan yang sangat inovatif dan kreatif, Charles Sanders Peirce memiliki pengaruh yang sangat besar dan luas terhadap  pemikir lain seperti Alfred North Whitehead, Karl Raimund Popper, Bertrand Russell, dan muridnya, John Dewey.
           Charles Sanders Peirce meninggal karena kanker pada tanggal 20 April 1914. Dia meninggalkan sejumlah besar karya dengan berbagai topic termasuk logika, matematika, geodesi, astronomi, fisika, filsafat, dan ekonomi. Di antara karya-karyanya yang paling penting mengenai  pragmatisme adalah What Pragmatism Is (1905), Issues of Pragmaticism (1905) Prolegomena To an Apology For Pragmaticism (1906). Di antara tulisannya yang terkenal adalah Grounds of Validity of the Laws of Logic: Further Consequences of Four Incapacities (1869), The Harvard lectures on British logicians (1869–70), Description of a Notation for the Logic of Relatives (1870) On the Algebra of Logic (1880). Karya filsafatnya yang lain adalah The Monist Metaphysical Series (1891–93) A Neglected Argument for the Reality of God (1908).
            Penelitian yang paling terkemuka mengenai Charles Sanders Peirce dilakukan oleh sejarawan Carolyn Eisele dan Max Fisch dan, dan pada tahun 1946, Charles Sanders Peirce Society didirikan.











BAB III
PENUTUP
3.1  Simpulan
Dari pemaparan makalah diatas dapat disimplkan bahwa:
Semiotik merupakan ilmu yang mengkaji tanda-tanda dalam kehidupan manusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam kehidupan manusia terdapat berbagai macam tanda yang perlu diartikan bahkan ditafssirkan dari suatu tanda. Charles Sanders Pierce merupakan salah satu tokoh semiotika yang sangat berpengaruh. Adapun teori semiotika Charles Sander  Pierce adalah tanda sebagai “sesuatu yang mewakili sesuatu”. Hingga pada akhirnya ia berkeyakinan bahwa manusia berfikir dalam tanda. Secara etimologi ia menyatakan bahwa “kita hanya berfikir dalam tanda”. Tanda selain simbol dengan logika tanda juga merpakan alat komnikasi. Dari sini Charles Sanders Pierce semakin yakin segala sesuatu adalah tanda.
3.2  Saran
Berdasarkan uraian di atas, penulis menganggap perlu menyampaikan saran. Penulis mengharapkan kepada pembaca untuk lebih memahami materi dalam makalah ini karena sangat berguna bagi mahasiswa yang mempelajari tentang Semiotika menurut Charles Pierce. Agar pembaca dapat mengetahui gambaran umum tentang Semiotika khususnya semiotika menurut Charles Pierce melalui pemaparan makalah ini.














DAFTAR PUSTAKA

ulfahzakiyah.blogspot.com :2015/12