Rabu, 19 Desember 2018

Cerpen Mendaki Gunung Cikuray


“Cikuray Bukan Untuk Orang Lebay”
Oleh: Rofif Syuja’ Mu’tasyim
RISPALA (Remaja Islam Pecinta Alam) mengadakan pendakian bersama dengan beberapa komunitas (Lintar Pro Adventure, Kompact, Ciledug Adventure, PANAVEC, AOC, FRM, )  ke Gunung Guntur, Garut Jawa Barat, dengan IDR 300K . Aku mewakili komunitasku yaitu LINTAR (Lintas Alam Tangerang Raya). Namun mendaki Gunung Guntur hanyalah rencana, karena ketika hari Jum’at, 27-09-18 Gunung Guntur mengalami kebakaran di sekitar jalur pendakian, sehingga pihak Gunung Guntur menutup pendakian menuju Gunung Guntur pada tanggal 28-09-18. Oleh karena itu, pendakian dialihkan ke Gunung Cikuray. Dan setelah ada perubahan itu, aku bertanya kepada salah satu seniorku dalam hal mendaki, yakni bang Ari. Dan  bang Ari berkata “beeeh mantep bang cikuray mah, dengkul ketemu dada, lebih berat dari Gunung Gede Via Putri”. Dia berkata lebih berat dari gunung Gede Via Putri karena aku dan dia pernah melakukukan Open Trip ke Gunung Gede melalui jalur Putri, dan memang cukup menguras tenaga. Aku langsung terbayangkan bagaimana sebuah pendakian ketika di jalur itu dengkul ketemu dada, belum lagi bawaan yang bisa dibilang tidak enteng.
Rombongan berkumpul di Gedung Serbaguna Kecamatan Curug pukul 20.00 WIB, karena akan ada pembekalan dari KORAMIL Curug, dan beberapa Pembina RISPALA. Kemudian cek in peserta serta perlengkapan yang akan dibawa ke Gunung. Oh iyah, dalam pendakian ini, dibagi beberapa kelompok. Karena mengingat banyaknya peserta, dan aku dapat kelompok satu bersama teman- teman yang baru pertama kali mendaki gunung. Bus berangkat pukul 00.10 WIB dengan menggunakan bus Putera KJU. Singkat cerita, pukul 09.00 WIB aku  dan rombongan sampai Garut. Kemudian turun dari bus, karena akses menuju Cikuray tidak akan bisa dilalui dengan bus. Biasanya warga sekitar menyewakan mobil losbak untuk melanjutkan perjalanan ke basecamp Cikuray Via Pemancar.
Satu losbak hanya boleh diisi 12 orang, mengingat medan menuju Cikuray yang curam dan sempit, dan selama dijalan mampu membuat kepala saya pusing karena jalan yang berbatuan dan penuh debu. Sampai basecamp pemancar, saya dan rombongan menyempatkan untuk sarapan dahulu sekalian isi tenaga buat mendaki, dan tak lupa mengisi pembekalan air, karena di atas tidak ada sumber air. Namun ketika sarapan, saya diuji lagi kerena warung hanya ada nasi, lauknya tak ada. Dengan penuh inisiatif, aku dan yang lainnya tetap makan dengan lauk gorengan di tambah kecap dan saos. Mau ga mau saya harus memakannya untuk isi tenaga.
Aku dan rombongan memulai pendakian pukul 13.00 WIB dengan masing - masing kelompok, sebelum berangkat ada breafing sebentar, dan berdo’a. ketika memulai mendaki, aku membawa Carier Eiger 90 Liter, dan memang ketika di basecamp teman- teman sudah bertanya “Kuat ora mas sampean gowo abo- abot iku” (kuat ga mas kamu bawa berat- berat itu). Yaaa jawabanku “Insya Allah”. Saat mulai berjalan menuju pos 1, track nya sudah terbilang curam, belum lagi medan berdebu yang mampu membuat sesak nafas. Dan benar saja, ketika sampai pos 1, aku langsung mual dan muntah. Kemudian team Ranger menghampiri saya dan memberikan fresh care untuk dioleskan di perut. Setelah agak mendingan, carier saya tukeran oleh salah satu Ranger, yakni mas Fajar. Dan benar saja, selama di track aku sering menemukan jalan curam hingga dengkul ketemu dada. Untung saja tidak hujan, tak bisa terbayang kalau hujan, selain licin, tanahnya pasti sangat lengket.
Ketika di pos 3, rombongan lain sudah tak bersama - sama rombongan, karena sudah pisah- pisah. Termasuk aku. Ketika sampai pos 5, sudah mulai maghrib, azan terdengar dari atas ketinggian. Tak lama dari itu malam pun tiba, dengan angina dan kabut tebal. Dengan segera, aku dan yang lain mengeluarkan headlamp (senter yang di kepala) untuk membantu menerangi perjalanan. Namun ternyata yang bawa hanya beberapa orang saja, akhirnya dibagi- bagilah alat penerangan di depan, tengah, dan bagian belakang. Tak sedikit dari teman- teman yang mulai terasa keram, baik di telapak, dan di bagian betis. Hot n cream, fresh care, koyo, dan berbagai alat buat penghangat dikeluarkan semua. Kalau kondisi sudah begini, harus sedikit dipaksakan supaya sampai ke area tenda. Supaya langsung istirahat, kalau terlalu banyak mengeluh nanti yang dikhawatirkan terjadi hal- hal yang tak diinginkan. Salah satunya hypothermia.
Melihat jalur yang semakin naik semakin sulit, sudah jelas Gunung Cikuray bukan untuk orang lebay, kalau yang mendaki gunung itu orang yang lebay, pasti di baru pos 2 atau pos 3 minta turun atau sudah tak sanggup lagi untuk melanjutkan menuju area tenda apalagi sampai puncak. Salah satu teman saya di pos 5 sudah tak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan akibat sangat kelelahan. Dia setelah pulang kerja langsung siap- siap mendaki dan tak ada persiapan khusus. Dan ketika lelah, dia selalu merokok. “Mas Don, sini tasmu tak bawa.” Kata tim ranger. Mas Dony menjawab “ga usah mas, ga papa, ini mah tasnya enteng, saya nya aja yang lemes”. Kemudian mas Dony tetap melanjutkan perjalanan dengan tongkat sebagai pembantu untuk mendaki dan berjalan dengan amat pelan. Dan ada beberapa orang yang ku jumpai di pos 3 dan 4 yang sedang mendirikan tenda. Yang saya yakin mereka tak kuat dan terlalu santai sehingga cukup sampai pos 3 dan 4. Padahal jarak dari pos 4 menuju pos 6 itu masih sampai 2 jam mendaki. Namun yang malas itu diri pribadi.
 Akhirnya aku sampai pos 6 tempat mendirikan tenda pukul 19.00 WIB dengan kondisi jalur sudah penuh kabut tebal, dan cuaca semakin dingin sampai kerasa hingga ke tulang. Aku dengan cepat mendirikan tenda sebagai tempat berlindung dengan teman- teman yang lain. Kelompok 1 mendirikan 2 tenda dengan masing- masing kapasitas untuk 5 orang. Setelah tenda berdiri, aku membagi kelompok lagi, ada yang masak untuk mengisi perut, ada pula yang membantu memasukkan carier ke dalam tenda. Dan yang masak pun aku bagi lagi, ada yang masak nasi dan ada yang goreng lauk. Supaya tidak ada yang diem dan menambah kedinginan yang menyelimuti tubuh. Setelah masakan matang, aku langsung makan bersama. Menu makan pada malam itu adalah nasi dan mi rebus, yang utamanya untuk mengisi tenaga dahulu. Teman- temanku makan degan sangat lahap, karena memang selama perjalanan mereka hanya minum dan menahan rasa lapar. Dan mendapat info dari tim ranger bahwa mas Dony sudah tak sanggup lagi untuk menyusul teman- teman yang lainnya ke area camping. Kemudian 3 orang tim ranger membantu untuk mendirikan tenda di pos 5, karena bobot tubuh mas Dony yang terbilang gemuk tak mungkin di bantu hanya 2 orang. Akhirnya 3 orang tim ranger turun dan menemani serta membawa logistic untuk mas Dony hingga hari esok.
Setelah perut kenyang, aku dan yang lainya mulai menyusun tempat tidur supaya tidak tidur semau mereka supaya cukup. Setelah beres, saya langsung memakai sleeping bag supaya anget ke tubuh, karena semakin malam itu cuacanya semakin dingin. Dan selama tidur itu aku tidak bisa tidur nyenyak, karena angin nya terbilang kencang dan terasa hingga ke tulang. Ngilu. Dan sebelum tidur itu ada panitia yang memberitahu kalau jam 4 pagi akan summit (menuju puncak).
Dan benar saja, ketika pukul 03.30 WIB kami sudah dibangunkan untuk siap- siap menuju puncak, sebelum berangkat, saya menyeduh energen 2 bungkus sebagai ganjelan perut agar tidak kosong sekali perut. Dan tak lupa membawa senter untuk penerangan dan sarung tangan. Aku dan yang lainnya berangkat menuju puncak pukul 04.00 WIB, dan selama perjalanan menuju puncak tidak sedikit teman- temanku yang keram dan merasa kedinginan. Dan jalurnya tak semudah yang dibayangkan, cuaca dingin dan jalur dengkul ketemu dada pun kerap ku temukan.
Aku sampai puncak pukul 05.40 WIB dan langsung menikmati indahnya sunrise dan samudera awan yang membuat lelah hilang. Namun sayang saja, ketika di puncak suasanya sudah padat sekali dengan pendaki lainnya yang ingin mengabadikan moment. Namun ketika diatas pun cuaca nya amat dingin meskipun matahari sudah terik. Dan ketika di puncak Cikuray itu ada sebuah bangunan, dan sudah ada pemberitahuan agar tidak menaiki bangunan tersebut. Namun nyatanya mereka tak memperdulikan pemberitahuan tersebut.
Menikmati suasana puncak Cikuray dengan pemandangan gunung Slamet, gunung Ciremai dan Gunung Papandayan. Di puncak sampai pukul 07.30 WIB     dan kembali ke tenda sekaligus membuat sarapan untuk mengisi tenaga untuk turun ke bawah. Sarapan pagiku dengan nasi goreng ditambah dengan sosis dan tempe goreng. Soal rasa tak usah diragukan lagi, karena yang kami pikirkan adalah mengisi tenaga. Dan setelah sarapan kami mulai berkemas, melipat tenda dan operasi semut supaya alam tetap bersih.
Kemudian saya dan yang lainnya turun pukul 09.00 WIB dan sampai di basecamp pemancar pukul 13.00 WIB. Ketika turun, saya menemukan sepasang kekasih yang sedang turun pula. Namun, sang wanita terkesan alay atau lebay, karena terlalu banyak mengeluh, sementara si cowoknya selalu memberikan semangat kepada ceweknya. Padahal seluruh barang dibawa oleh cowoknya, sementara yang cewe hanya membawa tracking pool (tongkat untuk membantu mendaki). Melihat kejadian itu, aku hanya tersenyum dan miris, karena tujuan mendaki gunung untuk refreshing malah hancur karena sikap orang yang terlalu banyak mengeluh. Jalur turun itu lebih cepat dari mendaki karena memang lebih enak, asal hati- hati. Dan tak jarang aku tersepeleset karena licin terkena akar yang muncul di permukaan tanah. Kondisi sepatu dan celana sudah kotor karena tanah. Dan ketika sampai di basecamp langsung istirahat, karena punggung udah kerasa pegel- pegel. Setelah merasa cukup, saya langsung bilas untuk mandi karena cuaca di bawah itu panas. Ternyata air di kamar mandi sangatlah dingin tapi seger ke badan.
Setelah mandi, sambil menunggu teman- teman yang lainnya saya menyempatkan makan siang, dan setelah semua pada turun dan bersih- bersih. Waktunya pulang dengan losbak hingga jalan besar. Aku dan yang lainnya pulang ke Tangerang pukul 16.20 WIB dan sampai di Tangerang pukul 02.00 WIB dan langsung melanjutkan istirahat di kasur tercinta.   
Pesan : buat semua orang yang ingin mendaki gunung harus mempersiapkan diri dan mental nya, karena mungkin melihat orang yang mendaki itu enak, namun kenyataan nya untuk mencapai puncak butuh perjuangan yang tak mudah, banyak batu, akar dan belum lagi kalau hujan turun. Amat berat perjuangan mendapatkan hal yang indah. Analogi mendaki gunung adalah kehidupan, ketika kita ingin mendapat hal yang bagus, maka untuk mendapatkan itu harus perlu perjuangan. Apalagi Gunung Cikuray adalah salah satu gunung yang memang terkenal eksrim nya, jalur nya pun mampu membuat siapa saja dibuat lemas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar